DISTRO SEBAGAI WADAH KREASI DAN BISNIS ANAK NEGERI
DISTRO menjadi sebuah kata yang trend akhir-akhir ini bukan hanya di kalangan anak muda atau ABG, tapi kalangan orang tua bahkan anak-anak pun sudah familiar dengan istilah ini. Kata ini pertama muncul sekitar awal tahun 2002. Bisnis Distro ini berawal dari ide kreatif beberapa orang anak negeri yang mempunyai kemampuan khusus di bidang desain grafis dan industri (kecil-kecilan) di bidang clothing (pembuatan pakaian jadi). Uniknya ‘Distro’ ini sesuai dengan namanya yang merupakan kepanjangan dari Distribution Outlet. Dimana sang kreator selain membuat desain untuk gambar dan model pakaian dan membuatnya sesuai keinginan, setelah itu masih harus memikirkan bagaimana cara menjual atau memasarkan sendiri produk buatannya tersebut. Berbeda dengan Factory Outlet (FO) yang menjual pakaian-pakaian yang diproduksi secara massal oleh pabrikan atau konveksi.
Berawal dari pembuatan model berupa pola dan bentuk pakaian yang akan diproduksi, tentunya hal ini menuntut pengetahuan seseorang di dunia fashion. Walaupun pekerjaan ini juga sudah menjadi domain dan keahlian para penjahit yang membuka gerainya di tempat umum. Akan tetapi perbedaannya adalah pada keunikan desain model atau pola pakaian yang akan dibuat. Biasanya pakaian Distro berbeda dari segala hal, seperti model, pola, bahan, print/sablon, desain gambar dan lainnya.
Dilanjutkan dengan pembuatan desain gambar khusus untuk pakaian yang dipandang perlu untuk diberi tambahan berupa desain yang menarik. Biasanya pakaian yang diberi gambar berupa desain grafis itu adalah t-shirt atau kaos. Seorang Desainer Grafis mempunyai beban pekerjaan merancang sebuah gambar atau mendesain sebuah corak dengan kemampuannya mengoperasikan aplikasi komputer grafis seperti COREL, Adobe Illustrator, Freehand, Photoshop, atau masih banyak lainnya. Selain menggunakan aplikasi tersebut, masih ada Desainer Grafis yang memanfaatkan kemampuan menggambar manualnya dengan menggunakan alat tulis pendukung seperti pensil, pulpen, spidol sampai dengan cat dan kuas. Dan hal ini sangat bergantung pada ide dan kreatifitas sang desainer dengan memperhatikan selera konsumen yang sedang in atau trend.
Pada umumnya gambar desain tersebut dituangkan ke dalam pakaian dengan berbagai teknik dan media. Biasanya yang lebih sering digunakan adalah teknik sablon. Teknik ini menggunakan screen dan cat khusus sablon dengan melalui beberapa tahapan atau proses yang tidak mudah. Hanya orang tertentu yang mempunyai keahlian ini dan sebelumnya mempelajari secara khusus melalui kursus, buku, atau bahkan coba-coba. Cat khusus sablon pakaian ini yang sering digunakan adalah rubber GL, super white (SW) serta untuk cat yang mempunyai efek timbul seperti foaming dan plastisol. Selain teknik sablon, belakangan ini kerap juga digunakan teknik lain seperti foil, flocking dan lainnya.
Setelah melewati tiga proses diatas, masih dilanjutkan dengan proses produksi berikutnya yakni clothing atau penjahitan. Pada tahap ini tentunya dibutuhkan seorang yang memiliki keahlian khusus dalam menjahit pakaian jadi. Menjahit pakaian tentunya dengan mengikuti pola dan desain pakaian yang telah ditentukan sejak awal. Mesin jahit yang digunakan juga beragam dari jenis, merk, kemampuan, harga dan kualitas hasil jahitannya.
Pakaian yang telah selesai dikerjakan dengan melalui tahapan-tahapan tersebut dan di-packaging dengan sebaik-baiknya dan semenarik mungkin, siap untuk ditawarkan kepada konsumen melalui penjualan langsung di oultlet atau dengan penjualan online di internet. Penjualan langsung di outlet merupakan cara yang efektif apabila kita memiliki tempat yang kondusif dan strategis untuk dijadikan Distro. Kondusif dalam arti struktur bangunan, interior dan eksterior, luas serta bentuk bangunan yang memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan toko-toko pada umumnya. Dan strategis dalam arti letak dan lokasi outlet yang mudah didatangi langsung oleh konsumen. Akan tetapi ada beberapa pengusaha Distro yang menawarkan produknya di tempat-tempat khusus dan unik atau tidak selalu di outlet yang sudah tertata rapih. Tempat tersebut bisa saja di garasi mobil rumah, atau bahkan dengan mobil itu sendiri, stand pada tempat perbelanjaan, dan banyak lagi tempat lainnya yang menarik untuk dijadikan Distro. Sedangkan penjualan online yang sedang marak akhir-akhir ini adalah melalui situs khusus jual beli seperti Kaskus, eBay, atau bahkan memanfaatkan situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan micro blogging Multiply, Wordpress dan lain-lain. Dan akan lebih bonafide lagi jika kita memiliki website sendiri.
Distro sudah tersebar merata di beberapa kota di tanah air, seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, Jogja, Surabaya, Bali, Mataram, Makassar dan kota lainnya. Beberapa brand Distro yang sudah dikenal antara lain adalah Bloop, Endorse, Ouval Research, Black ID, Screamous, Cosmic, Friendshell dan masih banyak lagi lainnya. Selain di kota besar, Mataram merupakan sasaran baru para pebisnis distro ini, terbukti dengan menggeliatnya aktifitas dsitro baru yang ada disana. Salah satu yang baru saja dibuka adalah 8/6 (eight pro six) Distro yang dimiliki oleh Ricky Darmansyah, pengusaha asal Jakarta yang merupakan alumni salah satu perguruan tinggi yang ada di kota itu yakni Universitas Mataram.
Selain Distro tersebut sekarang juga mulai tumbuh distro-distro khusus untuk anak-anak seperti CapCipCup Distro For Kidz (CDFK), Babybones, Parental Advisory, dan lainnya. Keunikan Distro khusus untuk anak ini adalah pada desain yang menarik, unik dan cenderung lucu mengikuti trend yang sedang populer di sekitar kita. Seperti CapCipCup Distro For Kidz (CDFK) yang selalu mengeluarkan desain unik setiap satu minggu sekali yang kadang membuat penasaran para pelanggannya.
Dari beberapa penjelasan diatas tentunya tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa usaha Distro ini harus semuanya dikerjakan atau dijalani sendiri. Usaha ini masih bisa dilakukan dengan kerjasama dalam hal produksi ataupun penjualan. Kerjasama dalam produksi dikenal dengan istilah maklon. Dan dalam hal penjualan ada kerjasama konsinyasi, reseller, ‘beli putus’, dan lain sebagaiannya.
Jadi jangan ragu lagi jika anda ingin memiliki (baca membeli) produk yang ditawarakan oleh distro-distro tersebut. Selain Karena produknya yang unik dan berkualitas, hal ini tentunya akan memajukan pengusaha-pengusaha dalam negeri. Karena seluruh pelaku bisnis ini merupakan pengusaha lokal yang kreatif dan dinamis serta kebanyakan adalah anak muda calon generasi penerus bangsa. Atau bahkan tertarik untuk langsung terjun dalam bisnis menarik ini, kesempatan masih sangat terbuka lebar.
Tulisan ini hanya sekelumit dan merupakan gambaran yang umum-umum saja tentang bisnis distro, dan masih banyak hal yang lebih khusus, teknis, dan spesifik yang bisa didapatkan dengan membaca buku, artikel di internet, dan sumber lainnya. Tulisan ini sekaligus untuk menggugah pembaca untuk senantiasa memberikan perhatian yang lebih serius terhadap produk dalam negeri (100% Made in Indonesia).
Penulis adalah Pelaku bisnis Distro (Pemilik CapCipCup Distro For Kidz /CDFK bersama Riena dan Warnoto)
Alamat email / facebook / YM : capcipcup.distro@yahoo.com
Tulisan ini pernah dimuat pada situs www.gomong.com pada 17 Juni 2010dan situs http://kagum.us pada 23 Juni 2010.
Hosted by